Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang, "Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh ! Aku tunggu bis berikutnya aja deh."
Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah.."
Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, "Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku". Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.
Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.
Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju ! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.
Moral dari cerita ini: sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.
Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.
Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.
Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.
Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu?
Sumber: conectique.com
Sabtu, 10 Januari 2009
Pasangan dari Tuhan
Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh
pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku," Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. " Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, " Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar." " Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?" " Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah - suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."
Kisah ini untuk yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang sedang mencari...
Sumber: conectique.com
pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku," Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. " Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, " Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar." " Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?" " Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah - suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."
Kisah ini untuk yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang sedang mencari...
Sumber: conectique.com
Bagaimana Kita Menghadapi Cobaan
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya. Dia bertanya mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan. Dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya. Dia nyaris menyerah kalah dalam kehidupan.Setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor. Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak merah ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam panci terakhir. Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.
Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya. Setelah 20 menit, si ayah mematikan api. Dia menyisihkan lobak dan meletakkannya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lain. Lalu dia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, Nak?"
"Lobak, telur dan kopi", jawab si anak. Ayahnya meminta anaknya memakan lobak itu. Dia melakukannya dan mengakui bahwa lobak itu nikmat. Ayahnya meminta dia mengambil telur itu dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang matang. Terakhir, ayahnya meminta untuk minum kopi. Dia tersenyum ketika meminum kopi dengan keharuman aroma. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini,ayah?"
Si ayah, sambil tersenyum menerangkan bahawa ketiga bahan itu telah menghadapi kesulitan yang sama, direbus dalam air dengan api yang panas tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan mudah dimakan. Telur mudah pecah dengan isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Serbuk kopi pula mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi mengubah warna dan rasa air tersebut. "Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya ?
Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi?" tanya ayahnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan kehilangan kekuatan. Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cobaan dalam kehidupan akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku.
Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi. Jika kita seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitar kita juga menjadi semakin baik.
Antara lobak, telur dan kopi, engkau yang mana?
Sumber: conectique.com
Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor. Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak merah ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam panci terakhir. Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.
Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya. Setelah 20 menit, si ayah mematikan api. Dia menyisihkan lobak dan meletakkannya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lain. Lalu dia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, Nak?"
"Lobak, telur dan kopi", jawab si anak. Ayahnya meminta anaknya memakan lobak itu. Dia melakukannya dan mengakui bahwa lobak itu nikmat. Ayahnya meminta dia mengambil telur itu dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang matang. Terakhir, ayahnya meminta untuk minum kopi. Dia tersenyum ketika meminum kopi dengan keharuman aroma. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini,ayah?"
Si ayah, sambil tersenyum menerangkan bahawa ketiga bahan itu telah menghadapi kesulitan yang sama, direbus dalam air dengan api yang panas tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan mudah dimakan. Telur mudah pecah dengan isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Serbuk kopi pula mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi mengubah warna dan rasa air tersebut. "Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya ?
Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi?" tanya ayahnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan kehilangan kekuatan. Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cobaan dalam kehidupan akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku.
Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi. Jika kita seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitar kita juga menjadi semakin baik.
Antara lobak, telur dan kopi, engkau yang mana?
Sumber: conectique.com
Hidup Itu Memilih
Jerry adalah seorang manajer restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"
Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga
mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain.
Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.
Jerry adalah seorang motivator alami. Jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialami.
Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?"
Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu.
Setiap ada seseorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya. Aku selalu memilih sisi positifnya."
'Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry, "Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan.
Kamu memilih bagaimana orang-orang di sekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."
Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran, yaitu membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata.
Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.
Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku?"
Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan. "Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry.. "Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."
"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, "Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."
"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya.
"Di sana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry.
"Dia bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku.
Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' di tengah tertawa mereka, aku katakan, "Aku memilih untuk hidup!". Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."
Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.
Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu. Jika kamu bisa mengendalikannya maka hidup akan jadi lebih mudah.
Sumber: conectique.com.
Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga
mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain.
Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.
Jerry adalah seorang motivator alami. Jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialami.
Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?"
Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu.
Setiap ada seseorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya. Aku selalu memilih sisi positifnya."
'Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry, "Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan.
Kamu memilih bagaimana orang-orang di sekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."
Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran, yaitu membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata.
Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.
Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku?"
Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan. "Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry.. "Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."
"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, "Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."
"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya.
"Di sana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry.
"Dia bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku.
Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' di tengah tertawa mereka, aku katakan, "Aku memilih untuk hidup!". Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."
Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.
Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu. Jika kamu bisa mengendalikannya maka hidup akan jadi lebih mudah.
Sumber: conectique.com.
1 Jam Tanpa Dosa
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"
Ayahnya menjawab sambil tersenyum, "Tak mungkin Nak..."
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" Tanya gadis kecil lagi.
Ayahnya menjawab, "Tak mungkin Nak…"
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?" Kembali gadis kecil itu bertanya.
Lagi-lagi ayahnya menjawab "Tak mungkin, nak…"
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" Sekali lagi gadis kecil itu bertanya.
Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab, "Mmm.... Mungkin bisa Nak..."
"Lalu.... Bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa…? Tanpa berbuat jahat untuk satu jam itu..? Hanya waktu demi satu jam saja Yah…? Bisakah…?" Pertanyaan beruntun dilontarkan gadis kecil itu kepada ayahnya.
Ayahnya tertawa dan berkata, "Nah… Kalau itu pasti bisa Nak...."
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata, "Kalau begitu Ayah… Aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya Yah…?"
Sumber: Unknow
Ayahnya menjawab sambil tersenyum, "Tak mungkin Nak..."
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" Tanya gadis kecil lagi.
Ayahnya menjawab, "Tak mungkin Nak…"
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?" Kembali gadis kecil itu bertanya.
Lagi-lagi ayahnya menjawab "Tak mungkin, nak…"
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" Sekali lagi gadis kecil itu bertanya.
Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab, "Mmm.... Mungkin bisa Nak..."
"Lalu.... Bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa…? Tanpa berbuat jahat untuk satu jam itu..? Hanya waktu demi satu jam saja Yah…? Bisakah…?" Pertanyaan beruntun dilontarkan gadis kecil itu kepada ayahnya.
Ayahnya tertawa dan berkata, "Nah… Kalau itu pasti bisa Nak...."
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata, "Kalau begitu Ayah… Aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya Yah…?"
Sumber: Unknow
Jumat, 09 Januari 2009
Love Will Keep Us A Life...?
Pernah mendengar judul dari artikel ini…? Bagi para pencinta musik Slow Rock, mungkin sudah tidak asing lagi. Ya… Love Will Keep Us A Life merupakan salah satu judul lagu yang dipopulerkan oleh Eagle. Saya dalam hal ini sengaja “mencomot” judul lagu tersebut sebagai judul arikel ini, karena ketertarikan saya atas judul tersebut.
Cinta… Mungkin jika disurvei, topik ini menduduki tempat teratas di dunia. Hampir semua tulisan membicarakan tentang Cinta. Tapi, yang menjadi pertanyaan, sebegitu menarikkah Cinta…? Seberapa pentingnya Cinta sampai-sampai “will keep us a live...?” Jika iya, Cinta yang seperti apa yang seharusnya…? Bukankah variasi tentang cerita Cinta sangatlah banyak…?
Jawabannya hanya satu. Makna Cinta adalah Cinta yang bermakna. Seperti halnya hidup yang serba memilih, Cinta pun juga demikian. Akan kita apakan hidup kita, seperti halnya akan kita apakan Cinta kita. Jika hidup sudah pasti membuat kita hidup, lain halnya dengan Cinta. Cinta belum tentu membuat kita hidup atau dengan kata lain, jika kita sudah “terlanjur” hidup, maka Cinta tersebut bisa membuat hidup kita lebih hidup atau sebaliknya, justru Cinta yang merusak hidup kita.
Ketika ungkapan “Makna Cinta adalah Cinta yang Bermakna” dilontarkan, pertanyaan selanjutnya akan muncul. Cinta yang bagaimana yang bermakna itu…? Karena jika kita hanya memandang ungkapan tersebut sebatas ungkapan saja, maka akan terkesan bahwa ungkapan tersebut hanya solusi normatif belaka.
“Aku mencintaimu bukan karena, melainkan walaupun.” Ungkapan tersebutlah yang menjawab pertanyaan atas ungkapan Makna Cinta adalah Cinta yang Bermakna” itu.
Terkadang kita terlalu menuntut banyak terhadap pasangan kita. Namun, bagaimana dengan kekurangannya…? Apakah kita mau menerimanya…? Secantik apapun Bunga Mawar, pasti memiliki duri yang tajam. Tidak ada manusia yang sempurna (No Bodies Perfect). Yang terpenting, Cinta kita terhadap seseorang jangan sampai membutakan kecintaan kita kepada Sang Pencipta. Ingat, hanya Dia yang membuat kita hidup dan hanya kepada-Nya kita nantinya akan kembali. Cintailah pasangan kita atas nama-Nya dan terimalah dia apa adanya. Insya Allah, Love Will Keep Us A Life benar-benar terwujud dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti kita semua. Amin….
Cinta… Mungkin jika disurvei, topik ini menduduki tempat teratas di dunia. Hampir semua tulisan membicarakan tentang Cinta. Tapi, yang menjadi pertanyaan, sebegitu menarikkah Cinta…? Seberapa pentingnya Cinta sampai-sampai “will keep us a live...?” Jika iya, Cinta yang seperti apa yang seharusnya…? Bukankah variasi tentang cerita Cinta sangatlah banyak…?
Jawabannya hanya satu. Makna Cinta adalah Cinta yang bermakna. Seperti halnya hidup yang serba memilih, Cinta pun juga demikian. Akan kita apakan hidup kita, seperti halnya akan kita apakan Cinta kita. Jika hidup sudah pasti membuat kita hidup, lain halnya dengan Cinta. Cinta belum tentu membuat kita hidup atau dengan kata lain, jika kita sudah “terlanjur” hidup, maka Cinta tersebut bisa membuat hidup kita lebih hidup atau sebaliknya, justru Cinta yang merusak hidup kita.
Ketika ungkapan “Makna Cinta adalah Cinta yang Bermakna” dilontarkan, pertanyaan selanjutnya akan muncul. Cinta yang bagaimana yang bermakna itu…? Karena jika kita hanya memandang ungkapan tersebut sebatas ungkapan saja, maka akan terkesan bahwa ungkapan tersebut hanya solusi normatif belaka.
“Aku mencintaimu bukan karena, melainkan walaupun.” Ungkapan tersebutlah yang menjawab pertanyaan atas ungkapan Makna Cinta adalah Cinta yang Bermakna” itu.
Terkadang kita terlalu menuntut banyak terhadap pasangan kita. Namun, bagaimana dengan kekurangannya…? Apakah kita mau menerimanya…? Secantik apapun Bunga Mawar, pasti memiliki duri yang tajam. Tidak ada manusia yang sempurna (No Bodies Perfect). Yang terpenting, Cinta kita terhadap seseorang jangan sampai membutakan kecintaan kita kepada Sang Pencipta. Ingat, hanya Dia yang membuat kita hidup dan hanya kepada-Nya kita nantinya akan kembali. Cintailah pasangan kita atas nama-Nya dan terimalah dia apa adanya. Insya Allah, Love Will Keep Us A Life benar-benar terwujud dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti kita semua. Amin….
Paradigma Musik Indonesia
Kita boleh saja berbangga hati terhadap perkembangan industri musik di Indonesia. Untuk wilayah Asia Tenggara, bisa dibilang Indonesia merupakan salah satu yang terbaik. Tapi apakah hanya sampai disitu saja….?
Jawabannya tentu saja tidak. Banyak masyarakat di Indonesia yang belum sepenuhnya menyadari bahwa sebenarnya negeri ini memiliki banyak musisi berbakat, namun kurang banyak dikenal oleh khayalak ramai. Ingin bukti…? Coba bandingkan kualitas musik mayor label dengan indie label. Saya disini bukan ingin mengkotak-kotakkan kedua jalur musik tersebut. Tapi, yang menjadi catatan bagi kita semua bahwa musik adalah musik., yang mana alangkah baiknya jika kita menilai musik secara seobyektif mungkin. Siapapun musisinya, bagaimana latar belakang kehidupannya, bahkan bagaimana dia dalam menjalani kehidupannya harus kita pisahkan dengan penilaian kita terhadap karya musik musisi tersebut. Karena musisi berkarya dengan musiknya, maka kita pun sebagai masyarakat juga harus menilai musisi tersebut dari karya yang dihasilkan. Apapun jalur yang ditempuh musisi tersebut, entah itu mayor label atau indie label, yang terpenting bagaimana kualitas karya yang mereka hasilkan. Oleh karena itu, saya mengajak bagi para pencinta musik di seluruh tanah air, mari kita menilai musik dengan pemahaman yang jernih serta menjauhkan pemikiran jika musik mayor label lebih baik dari indie label. Hal tersebut sangatlah keliru. Obyektivitaslah yang berbicara, bukan atas dasar subyektifitas semata karena musik mayor label lebih populer.
Permasalahan yang lain, terkadang kita hanya terpaku dengan satu genre musik yang “itu-itu saja”. Perlu diingat bahwa salah satu musik yang berkualitas adalah musik yang mempunyai ciri khas tersendiri. Saya secara praktis menganggap bahwa jika musisi, apalagi grup band tersebut telah memasuki “dapur rekaman” , maka hal-hal yang menyangkut skill, kita anggap sudah lewat. Yang jadi masalah, bagaimana dengan skill yang telah mereka miliki, mereka dapat menghasilkan karya musik yang “mereka banget”. Hal tersebut penting karena pengetahuan masyarakat tentang musik akan lebih bertambah luas, tidak terpaku pada satu atau dua genre musik tertentu saja. Oleh karena itu, untuk memajukan musik Indonesia, diperlukan partisipasi aktif. Tidak hanya musisi itu sendiri, namun juga kita sebagai masyarakat yang menganggap bahwa musik bagi kita adalah penting.
Semoga musik Indonesia terus Berjaya. Tidak hanya di lingkup Asia Tenggara, namun juga di dunia. Amin….
Jawabannya tentu saja tidak. Banyak masyarakat di Indonesia yang belum sepenuhnya menyadari bahwa sebenarnya negeri ini memiliki banyak musisi berbakat, namun kurang banyak dikenal oleh khayalak ramai. Ingin bukti…? Coba bandingkan kualitas musik mayor label dengan indie label. Saya disini bukan ingin mengkotak-kotakkan kedua jalur musik tersebut. Tapi, yang menjadi catatan bagi kita semua bahwa musik adalah musik., yang mana alangkah baiknya jika kita menilai musik secara seobyektif mungkin. Siapapun musisinya, bagaimana latar belakang kehidupannya, bahkan bagaimana dia dalam menjalani kehidupannya harus kita pisahkan dengan penilaian kita terhadap karya musik musisi tersebut. Karena musisi berkarya dengan musiknya, maka kita pun sebagai masyarakat juga harus menilai musisi tersebut dari karya yang dihasilkan. Apapun jalur yang ditempuh musisi tersebut, entah itu mayor label atau indie label, yang terpenting bagaimana kualitas karya yang mereka hasilkan. Oleh karena itu, saya mengajak bagi para pencinta musik di seluruh tanah air, mari kita menilai musik dengan pemahaman yang jernih serta menjauhkan pemikiran jika musik mayor label lebih baik dari indie label. Hal tersebut sangatlah keliru. Obyektivitaslah yang berbicara, bukan atas dasar subyektifitas semata karena musik mayor label lebih populer.
Permasalahan yang lain, terkadang kita hanya terpaku dengan satu genre musik yang “itu-itu saja”. Perlu diingat bahwa salah satu musik yang berkualitas adalah musik yang mempunyai ciri khas tersendiri. Saya secara praktis menganggap bahwa jika musisi, apalagi grup band tersebut telah memasuki “dapur rekaman” , maka hal-hal yang menyangkut skill, kita anggap sudah lewat. Yang jadi masalah, bagaimana dengan skill yang telah mereka miliki, mereka dapat menghasilkan karya musik yang “mereka banget”. Hal tersebut penting karena pengetahuan masyarakat tentang musik akan lebih bertambah luas, tidak terpaku pada satu atau dua genre musik tertentu saja. Oleh karena itu, untuk memajukan musik Indonesia, diperlukan partisipasi aktif. Tidak hanya musisi itu sendiri, namun juga kita sebagai masyarakat yang menganggap bahwa musik bagi kita adalah penting.
Semoga musik Indonesia terus Berjaya. Tidak hanya di lingkup Asia Tenggara, namun juga di dunia. Amin….
Langganan:
Postingan (Atom)
